Kedudukan Hadits sebagai Pengembangan Dakwah Islam (Bagian 1)
![]() |
Sumber Gambar: all-free-download.com |
Sesuatu yang berkaitan dengan keislaman tentunya haruslah berkaitan erat dengan dalil-dalil yang termaktub dalam Al-Quran dan Hadist. Landasan utama dalam kehidupan beragama tersebut haruslah dijadikan pedoman bagi semua muslim agar tidak terjadi penyelewengan dalam kehidupan. Hal tersebut pun berlaku dalam dunia dakwah.
Dakwah dan Islam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kehadiran Islam tanpa disebarluaskan melalui proses dakwah tidak akan tersebut ke seluruh pelosok negeri di dunia. Kewajiban untuk berdakwah telah tertulis dengan jelas dalam Al-Quran. Banyak dari kita mungkin sudah hapal dalil-dalil tersebut. Namun, apakah kalian mengetahui bahwa hadist pun berbicara tentang dakwah ini? Nah, untuk menambah khazanah keislaman, penulis hendak memaparkan hadist-hadist yang berhubungan dengan dakwah. Penulis akan mengklasifikasikan hadist-hadist tersebut berdasarkan unsur-unsur dalam dakwah, berikut penjelasannya,
1. Pelaku Dakwah (Dai)
“Dari Abdullah ibn Amr bahwa Nabi saw. bersabda, "Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Ceritakanlah apa yang telah aku beritahukan mengenai Bani Israil karena demikian itu tidak berdosa. Barang siapa sengaja berdusta tentang aku, kelak tempatnya di neraka." (H.R. Al-Bukhari no. 3202)
Hadis ini menjelaskan tentang perintah Rasulullah saw. kepada umatnya untuk menyampaikan ajaran-ajaran beliau. Kata “ولواية” menunjukkan bahwa dakwah dilakukan menurut kemampuan masing-masing. Meskipun hanya satu ayat (sedikit ajaran Islam) yang kita terima, kita mempunyai kewajiban untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Dakwah dalam Islam merupakan tugas yang sangat mulia, yang juga merupakan tugas para nabi dan rasul, juga merupakan tanggung jawab setiap muslim. Dakwah bukanlah pekerjaan yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan, juga tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang. Seorang dai harus mempunyai persiapan-persiapan yang matang baik dari segi keilmuan atau pun dari segi budi pekerti.
Hendaknya perhatian seorang dai bergeser dari hal-hal yang bersifat furu’ dan juz’i kepada hal-hal yang bersifat ushul (pokok) dan kulli, dari hal-hal yang nafilah (sunnah) kepada yang bersifat fardu, dari perkara yang diperselisihkan kepada perkara yang disepakati, dari amalan anggota tubuh kepada amalan hati, dari sesuatu yang bersifat ekstrim kepada moderat, dari yang menyulitkan kepada yang memudahkan dan menggembirakan, dan “dari-dari” yang lainnya menuju sesuatu yang lebih baik.
Dalam berdakwah, seorang dai hanya dituntut untuk dapat menyampaikan kebenaran kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa harus membedakan status atau strata sosial sesuai dengan firman Allah “Dan tiada bagimu hanya untuk menyampaikan”. Apa pun hasil dari dakwah, sepenuhnya merupakan hak Allah, Allah-lah yang akhirnya akan menentukan siapa yang dibukakan hatinya untuk melihat kebenaran sehingga ia termasuk orang yang diberikan petunjuk (hidayah), dan siapa yang dikunci dan ditutup hatinya dari kebenaran sehingga ia termasuk orang yang tersesat.
Dari paparan di atas, bisa dipahami betapa beratnya tugas yang diemban oleh para dai, mereka tidak hanya dituntut untuk mengemas dakwahnya lebih menarik, tetapi juga dituntut menjadi teladan atas apa yang didakwahkannya. Dengan demikian, sudah seharusnya terdapat keselarasan antara ucapan dan tindakan dai di dalam melakukan dakwahnya.
2. Objek Dakwah (Mad'u)
Objek dakwah haruslah diajak kepada pengagungan Allah atau menuju Al-Islam. Karena Islam bersifat universal, objek dakwah pun adalah manusia secara universal. Hal ini didasarkan juga kepada misi Nabi Muhammad saw. yang diutus oleh Allahs swt. mendakwahkan Islam kepada segenap umat manusia. Dengan kata lain, objek dakwah adalah manusia sebagai penerima dakwah, baik individu maupun kelompok, bahkan umat Islam maupun bukan, atau manusia secara keseluruhan.
Dakwah kepada manusia yang belum beragama Islam adalah untuk mengajak mereka kepada tauhid dan beriman kepada Allah, sedangkan dakwah kepada manusia yang beragam Islam adalah untuk meningkatkan kualitas iman, Islam, dan Ihsan.
Dalam Hadist yang marfu’ diriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Saya diperintahkan untuk berbicara (berdakwah) kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka.”
Oleh karena itu, seorang dai harus tahu psikologis objek dakwah sebelum berdakwah. Agar dakwah bisa dilakukan dengan secara efisien, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan, maka sudah waktunya dibuat dan disusun stratifikasi sasaran. Mungkin berdasarkan tingkat usia; tingkat pendidikan dan pengetahuan; tingkat sosial ekonomi dan pekerjaan; berdasarkan tempat tinggal; dan lain sebagainya.
Dakwah hendaknya disampaikan pada setiap kaum sesuai dengan kemampuan dan level mereka, serta dengan metode yang sesuai dengan mereka, dengan bahasa yang mampu dicerna oleh otak mereka. Janganlah seorang Dai berbicara kepada orang yang diajak ke dalam dakwah dengan bahasa yang sebenarnya bukan bahasa mereka.
Inilah apa yang dikatakan Sayyidina Ali, “Bicaralah pada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui, dan tinggalkanlah apa yang mereka ingkari, adakah kalian menginginkan mereka mendustakan Allah dan Rasulnya.”
Rasul pun memerintahkan kita untuk menyampaikan berita dengan mudah dan jangan sampai menyulitkan pemahaman orang lain apalagi sampai terjadinya makna ganda (ambigu).
وقال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم وهو يبعث الناس: (يَسُرُّوا وَلاَ تُعَسِّرُوْا، وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوْا مَعَسِّرِيْنَ)
(رواه مسلم)
“Hendaklah kalian bersikap memudahkan dan jangan menyulitkan. Hendaklah kalian menyampaikan kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan bukan untuk menyulitkan.”
Adapun menurut Muhammad Abdu mad’u dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
- Golongan cerdik cendekia yang cinta pada kebenaran, dapat berpikir secara kritis, dan dapat cepat menangkap persoalan.
- Golongan awam, yaitu orang kebanyakan yang belum dapat berpikir secara kritis dan mendalam, serta belum dapat menangkap pengertian-pengertian yang tinggi.
- Golongan yang berbeda dengan keduanya, mereka senang membahas sesuatu, tetapi hanya dalam batas tertentu dan tidak mampu membahasnya secara mendalam.
(مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرٍ فَاعِلِهِ (رواه مسلم
“Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakannya”
Memahami Hadist Nabi di atas, erat hubungannya dengan pendakwah (dai). Sejatinya, seorang dai bertugas untuk menunjukkan suatu kebaikan kepada khalayak sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadist. Oleh karena itu, setiap pesan dakwah yang diberikan haruslah maslahat dan dapat dengan mudah dipahami orang banyak.
Pada prinsipnya, pesan apa pun dapat dijadikan sebagai pesan dakwah selama tidak bertentangan dengan sumber utamanya, yaitu Al-Quran dan Hadist. Pesan dakwah pada garis besarnya terbagi menjadi dua, yaitu pesan utama (Al-Quran dan Hadist) dan pesan tambahan atau penunjang (selain Al-Quran dan Hadist ). Pesan dakwah berisi semua bahan atau mata pelajaran yang berisi tentang pelajaran agama yang akan disampaikan oleh dai kepada mad’u dalam suatu aktivitas dakwah agar mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Rasul telah bersabda:
“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan mulutmu, apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman”
Semua muslim harus berani berdiri di garda terdepan dalam pembasmian kemunkaran dan menggalakan kema’rufan, terutama dai. Jangan sampai seorang dai malah diam membisu saat kemunkaran merajalela. Karena jika kita melihat kemunkaran di depan mata kita namun hanya diam saja padahal kita mampu untuk menghentikan kemunkaran tersebut, maka Allah tidak hanya akan menghukum yang berbuat kemunkaran saja, namun juga orang sekelilingnya. Pernyataan tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw. yang berbunyi:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلَا يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemungkaran itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya. Apabila mereka melakukannya, niscaya Allah akan mengadzab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh.” (H.R. Imam Ahmad)
Padahal memberikan petunjuk kepada orang lain, Allah akan memberikan penghargaan yang setimpal atau bahkan lebih, sebagaimana sabda Nabi saw.:
“Ajaklah mereka memeluk Islam dan beritahu mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka yang berupa hak Allah di dalamnya. Demi Allah, Allah memberi petunjuk kepada seseorang lantaran engkau, adalah lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta merah” (H.R. Imam Bukhari)
Jadi, karena dakwah merupakan perbuatan terbaik dan pelakunya akan dibalas dengan balasan yang besar. Maka dengan segera kita harus seperti Rasulullah yang selalu tetap tegar dalam dakwah, walau diganggu, dipersulit dan meskipun akan dibunuh tidaklah hal itu menghalangi beliau dalam berdakwah demi tegaknya agama Islam.
0 komentar