Media Sosial, Panggung Euforia Nikah Muda
![]() |
source: Rakyatku.com |
Dewasa ini, sedang terjadi pergeseran sosial di masyarakat yaitu maraknya budaya massa. Segala aspek kehidupan hampir tidak luput dari pengaruh budaya massa, tak terkecuali agama, terutama agama Islam. Pemaknaan agama diambil alih oleh media sosial yang berimplikasi pada pergeseran peranan institusi tradisional di masyarakat. Saat ini, aspek-aspek keagamaan memperoleh legitimasinya dari pesan-pesan berbalut aura agama yang bertebaran di media sosial.
Pernikahan Muda
Salah satu aspek agama yang ramai dibicarakan adalah pernikahan. Tradisi Islam menanamkan nilai penting pernikahan lewat berbagai firman Tuhan dan sabda Nabi yang mencerminkan bahwa tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak melakukan pernikahan.
Pernikahan adalah bagian dari sunnah Rasul. Selain untuk menciptakan keluarga Muslim dan meneruskan rantai untuk melestarikan masyarakat Muslim, juga sebagai benteng diri untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga mampu menjaga kehormatan dirinya.
Para pemuda selalu digambarkan sebagai makhluk yang memiliki libido seks yang tinggi dan dikhawatirkan menjerumuskan kepada jurang kemaksiatan melalui mekanisme pacaran atau pelacuran. Dengan berlandaskan dalil tentang bahaya mendekati zina, maka pernikahan usia muda direkomendasikan sebagian orang, bahkan dianggap suatu keharusan. Sekilas fenomena seperti ini memunculkan kesan polarisasi wacana bahwa kalau tidak mau berzina, ya menikah.
Pernikahan muda adalah salah satu sub ajaran Islam yang selalu seru didiskusikan. Topik ini diangkat ke permukaan karena disamping sebagai salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah saw., juga sebagai upaya pereduksian terhadap fenomena perzinahan antar lawan jenis yang belum sah menurut dogma agama yang marak dipertontonkan di depan khalayak.
Kampanye untuk menyegerakan pernikahan disinyalir diawali oleh pernikahan kontroversial antara Alvin (putra sulung dari ustadz Arifin Ilham) yang baru berusia 17 tahun dengan perempuan mualaf berusia 20 tahun. Pernikahan ini menjadi perdebatan karena usia mempelai laki-laki yang dianggap tidak sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Namun, kebanyakan masyarakat memakna pernikahan ini sebagai tujuan tertinggi dalam suatu hubungan.
Pernikahan di usia muda dijadikan alat untuk menjustifikasi bahwa yang demikian adalah hal yang berani dan membanggakan. Maka tak heran, seminar tentang pernikahan muda sedang subur-suburnya tumbuh di kalangan muda terutama aktivis dakwah. Bahkan kini telah dikemas menjadi gerakan sosial yang dibuktikan dengan hadirnya beragam komunitas pro nikah muda dan pemuda hijrah.
Kemaskulinan laki-laki pun diukur dari seberapa beraninya meminang perempuan dambaannya. Secara tidak langsung, hal ini memicu terjadinya segmentasi dan pendiskreditan terhadap para laki-laki yang menunda pernikahan, tidak peduli apakah dia sudah mapan dalam segi psikologis, material, maupun fisik.
Kekuatan Media Sosial
Di era milenial ini, gerakan nikah muda tidak mau ketinggalan dengan perkembangan zaman. Media sosial dijadikan boncengan untuk penyemaian ajaran-ajaran tentang anjuran menikah muda dengan ditawarkan beragam keindahan yang ada di dalamnya. Keterbukaan media massa kontemporer ini terlihat menjadi ajang umat Muslim untuk berkontribusi dan berekspresi atas suatu konsep pemahaman ajaran yang berada di lintas ruang dan waktu.
Posisi media sosial telah menjadi nadi kehidupan seluruh lapisan masyarakat. Media telah memengaruhi segala tindak-tanduk individu. Terlebih lagi, masyarakat Indonesia sedang beramai-ramai bermigrasi ke sosial media. Alhasil, media sosial telah menjadi saluran tepat untuk mobilisasi individu dan kelompok masyarakat untuk manut terhadap suatu topik.
Belakangan ini, jagat media sosial diriuhkan akun-akun khusus yang memiliki fokus pembahasan mengenai pernikahan muda dalam Islam. Kehadiran akun-akun ini ternyata digandrungi oleh kalangan remaja, terlihat dari para followers-nya yang sampai menyentuh angka ribuan.
Melalui platform media sosial, kampanye nikah muda menjadi lebih hidup dan lebih efektif untuk bisa tersampaikan kepada target utama, yaitu kaula muda. Wacana pernikahan dan pendiskreditan yang masih melajang di media sosial sangat laku dan diminati para pengguna media sosial.
Penyebaran gerakan pernikahan muda banyak disimbolkan melalui meme, quotes, dan videografis. Saat ini, individu tergerak untuk menikah muda karena kesederhanaan pesan yang ‘mengena’ dan daya tarik dari media yang mengusung pesan tertentu (pernikahan), alih-alih mendalami hakikat dari pesan yang disampaikan. Target utama para pembuatnya adalah kalangan remaja perempuan Muslim. Substansi yang tercantum pun seolah-olah ‘menyeret’ para kaum Adam untuk mengabulkan keinginan menikah dari kaum Hawa.
Kampanye nikah muda berseliweran di beranda media sosial dengan mencantumkan tagar #NikahMuda atau #IndonesiaTanpaPacaran. Para aktivis nikah muda gencar memborbardir para pengikut media sosialnya dengan beragam dalil yang dikemas dengan apik dan kekinian akan keharaman mendekati zina dan pernikahan dijadikan solusi. Tentu hal ini besar dampaknya ketika yang mempublikasikannya adalah seorang artis sosial media dengan latar belakang yang baik. Bak domino, kalaupun tidak banyak dari para pengikutnya yang berhasil menikah muda, minimal niat untuk segera menikah seketika muncul.
Di sisi lain, kebebasan di media sosial menjadikan individu lebih pasif. Hal ini dikarenakan media sosial terus menerus mencekoki para pengguna sehingga terjadinya dependensi terhadap produk yang disuguhkan media sosial. Implikasi dari sikap dependensi ini adalah menurunnya keingintahuan dan sikap kritis individu terhadap suatu hal. Semua dipercayakan kepada media sosial karena menganggap informasi yang disuguhkan adalah suatu kebenaran yang hakiki lewat imaji yang berada di bawah kontrol media.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa media sosial sebagai media massa kontemporer memiliki peranan yang besar dalam pembentukan paradigma individu, salah satunya mengenai pernikahan muda. Media sosial telah menjadi panggung euforia pernikahan muda. Para kaula muda dengan mudah digiring opininya menuju imaji tentang indahnya pacaran yang telah dibingkai pernikahan pada usia muda melalui media sosial. Mereka terlelap dibuai manisnya cinta dan cenderung melupakan poin penting lainnya dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
1 komentar
Dear brides and grooms to be
BalasHapusSalam hangat dari HIS Seskoad Grand Ballroom Bandung.
Kami dengan bangga mempersembahkan venue terbaru kami yaitu “HIS Seskoad Grand Ballroom”, Gedung seskoad yang berletak strategis nan mewah yang menjadi favorit para calon pengantin ini kini berada di naungan HIS, untuk itu fasilitas yang terdapat di gedung seskoad grand ballroom kini berstandard seperti gedung HIS lainnya, “Ballroom full karpet eksklusif, AC, Lampu Kristal, dan design ruangan yang elegan&mewah”. Selain gedung, kami juga bekerjasama dengan banyak pilihan vendor ternama di Bandung, mulai dari catering, busana&MUA, dekorasi, music & entertainment, fotografi&videografi, MC, wedding car, hingga pelayanan yang kami miliki untuk membantu calon pengantin dari awal sampai akhir yaitu, Wedding Public Relations, Wedding Planner, dan Wedding Executor. Dengan sistem “One Stop Wedding Service”, Kami pastikan akan memberikan pelayanan terbaik dalam membantu dari awal hingga di hari Bahagia akang teteh
Untuk itu kami mengundang akang teteh calon pengantin, untuk datang ke pre-launching HIS Seskoad Ballroom kami, dan segera dapatkan HARGA PRE-LAUNCHING yang pasti akan sangat worth it dengan fasilitas dan pelayanan yang kami berikan serta BONUS FANTASTIS! untuk akang teteh calon pengantin Cuma di HIS SESKOAD GRAND BALLROOM.
For more info and detail call :
Wedding Public Relations HIS Seskoad Grand Ballroom
Jl. Gatot Subroto No. 96 Bandung.
Giyan : 082261170022 (WA)
INSTAGRAM : @his_seskoad @giyanti.hisseskoad
See u brides and grooms to be!
-HIS Wedding Venue Organizer-