Menulis, Musuh Para Pelajar
Mendengar kata “menulis”, sebagian pelajar mengatakan bahwa hal itu sangatlah membosankan, melelahkan, dan banyak menghabiskan waktu, karena alasan tersebut mereka meninggalkan keterampilan segudang manfaat ini.
Menulis merupakan kegiatan kebahasaan yang memegang peran penting dalam dinamika peradaban manusia. Menulis mencakup seluruh kegiatan yang melibatkan pikiran, perasaan, khayalan, kemauan serta keyakinan. Dalam dunia pendidikan, bagi sebagian pelajar lainnya mengatakan bahwa menulis merupakan salah satu wahana untuk menyampaikan aspirasi.
Kebudayaan menulis kini sudah diganti dengan kebudayaan menyalin (copy-paste) yang menyebabkan pelajar malas untuk menulis. Tidak ada lagi kesadaran untuk belajar menulis dan membuat analisis sendiri. Hal itulah yang menyebabkan mental menulis pelajar kini semakin rendah. Kebanyakan dari pelajar belum memahami pentingnya menulis bagi kehidupan mereka yang akan datang.
Sebagai pelajar salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana yaitu harus menulis karya tulis ilmiah. Namun kewajiban itu sering dianggap sebagai tugas berat oleh pelajar karena kurangnya kemampuan dan kebiasaan dalam menyusun karya ilmiah. Oleh karena itu, pelajar diharapkan untuk mengetahui pentingnya budaya menulis sejak dini.
Melalui kegiatan menulis pula, orang dapat mengambil manfaat bagi perkembangan dirinya. Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang bersifat mekanistis. Keterampilan menulis tidak mungkin dikuasai hanya melalui teori saja, tetapi dilaksanakan melalui latihan dan praktik yang teratur sehingga menghasilkan tulisan yang tersusun dengan baik. Kejelasan organisasi tulisan bergantung pada cara berpikir, penyusunan yang tepat, dan struktur kalimat yang baik.
Penyebab Kurangnya Minat Menulis bagi Pelajar
Salah satu penyebab utamanya adalah kurang minat membaca pelajar. Membaca dan menulis tentu tidak dapat dipisahkan, karena membaca merupakan kegiatan untuk mencari referensi bagi kegiatan menulis. Di Kab. Cianjur sendiri, minat membaca para pelajar masih kurang, bisa dilihat dari perpustakaan-perpustakaan sekolah atau pun daerah yang masih sepi pengunjung. Disaat ramai pun, para pengunjung meminjam buku hanya sebatas menaruhnya dalam tas dan tidak sedikit yang menjadikannya pajangan di rumah.
Merasa kurang berbakat akan menjadi salah satu kendala bagi seseorang sehingga tidak menulis. Ketidakberdayaan seorang pelajar dalam menciptakan sebuah tulisan tidak lepas dari bakat, pemikiran dan kemampuan yang dimilikinya. Aktivitas menulis menuntut adanya penggabungan antara bakat seseorang dengan kemampuan berbahasa yang dimilikinya. Sehingga, sikap pesimis dalam diri penulis pemula harus dihilangkan jika ingin menjadi penulis yang profesional.
Penyebab lain dari kurangnya minat menulis pelajar dikarenakan kurangnya penghargaan dari pihak lembaga pendidikan maupun pemerintah terhadap sebuah karya anak bangsa. Hal itu dapat dicontohkan oleh karya-karya B.J. habibie yang lebih banyak di hargai di luar negeri dibandingkan di Indonesia. Oleh karena itu, banyak pelajar Indonesia yang berpikir bahwa menulis merupakan kegiatan membuang-buang waktu karena tidak adanya penghargaan dari pemerintah. Penghargaan dari orang lain sangatlah penting, karena bisa menjadi salah satu penyemangat seseorang untuk terus berkarya dan sang penulis akan merasa dihargai akan hasil karyanya.
Faktor lain yang menyebabkan minat menulis pelajar cenderung rendah adalah perkembangan globalisasi semakin pesat dann teknologi pun semakin canggih, sehingga banyak literatur sebagai acuan referensi. Kini, para pelajar disuguhi berbagai teknologi atas perkembangan globalisasi, contohnya internet. Hakikatnya, internet ada untuk pelajar sebagai referensi dalam menambah wawasan dan mengerjakan tugas. Akan tetapi, para pelajar cenderung menjadi terbiasa menerapkan budaya ‘copas’ atau copy-paste. Ada yang berpikiran malas untuk merangkum dan berpikir lebih praktis untuk menghemat waktu. Jika seperti itu adanya, bagaimana mungkin pelajar dapat berpikir kreatif dan invoatif dalam memecahkan masalah jika selalu membudayakan ‘copas’?
Pentingnya Budaya Menulis
Setiap orang perlu menulis, karena memori ingatan seseorang itu terbatas. Kegiatan menulis juga merupakan tradisi intelektual bagi pelajar. Karena dengan membiasakan diri untuk menulis akan sangat baik untuk melatih daya ingat. Menulis berfungsi untuk mengikat wawasan dan ilmu yang didapatkan agar tidak lepas begitu saja. Lebih sering menulis akan lebih banyak ilmu dan wawasan yang diingat.
Adapun manfaat menulis bagi pelajar yaitu:
1. Menambah Wawasan
2. Melengkapi kewajiban
Sebagai seorang pelajar tentu mendapatkan tugas dari guru. Kebanyakan tugas yang diberikan membutuhkan kemampuan menulis, baik menulis dengan tangan maupun dengan bantuan komputer (mengetik).
3. Mengekspresikan isi Hati
Dengan menulis, dapat mendokumentasikan ide, pemikiran atau apa saja yang ada dalam pikiran. Menulis bisa menjadi media penyalur aspirasi atau luapan perasaan. Dengan menulis juga, bisa “membunuh” seseorang tanpa menyentuh.
4. Berbagi informasi kepada pembaca
5. Melatih kekritisan pelajar
Pelajar yang tidak ada waktu untuk turun ke jalan terhadap suatu hal yang menjadi permasalahan di masyarakat dapat menyalurkan pendapatnya melalui tulisan. Pelajar disebut sebagai agent of change atau agen perubahan. Terkadang menulis dapat dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menciptakan perubahan di masyarakat guna menunjang peningkatan taraf kehidupan masyarakat secara luas.
6. Menjadikan pelajar yang kreatif
Dari secarik kertas, seorang pelajar bisa membuat hal baru yang mampu mengubah pola pikir dan kebiasaan mayarakat. Mengingat fungsi pelajar sebagai pelaku pemecahan dan terobosan-terobosan untuk membantu masyarakat. Pelajar dituntut untuk peka terhadap sekitar dan memikirkan ide-ide pemecahan masalah. Mereka pun harus lebih terbuka untuk terus menggali informasi dari berbagai sumber, misalnya lingkungan sekitar atau buku-buku untuk menemukan pemecahan masalah.
Wawasan akan bertambah, ide-ide baru juga bisa muncul dengan baik hasil dari menarik kesimpulan berdasarkan referensi-referensi yang sudah dibaca. Membaca juga dapat meningkatkan imajinasi seseorang dalam berpikir kritis dan kreativ menuju hal-hal yang positiv. Imajinasi berkontribusi besar dalam hal menulis dan bahkan lebih penting daripada logika. Seperti salah satu kutipan dari perkataan salah orang terjenius di dunia.
“Imajinasi lebih penting dari pada logika. Logika hanya membawa anda dari A ke B. Namun imajinasi mampu membawa anda kemana-mana”
-Albert Einstein-
Menghidupkan Budaya Menulis dalam Diri Pelajar
Pelajar merupakan generasi muda yang memiliki peranan penting dalam proses maju dan berkembangnya suatu bangsa. Pelajar dituntut untuk memiliki potensi, kecerdasan, semangat yang luar biasa, serta budi pekerti luhur.
Budaya menulis merupakan budaya yang sangat bagus dikembangkan dan dilestarikan, untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ide dan gagasan dalam rangka meningkatkan kualitas bangsa dan negara.
Adapun cara yang dapat diterapkan untuk menghidupkan budaya menulis dalam diri pelajar, yaitu:
1. Pembiasaan diri sejak dini
Pendidikan seorang anak dimulai dari keluarga, lingkungan belajar dan lingkungan masyarakat. Artinya seorang anak yang tidak terbiasa menulis sejak kecil merasa sangat sulit untuk menghasilkan sebuah tulisan meskipun telah duduk di bangku kuliah. Oleh karena itu, untuk menciptakan budaya menulis diawali dari pembiasaan sejak dini. Sehingga, kelak dewasa ia hanya perlu mengasah kemampuan menulisnya.
2. Membiasakan diri untuk membaca
Kualitas menulis tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan penulis dalam membaca karena dengan membaca kita akan memperoleh banyak pengetahuan yang nantinya dapat menjadi bekal untuk menulis. Semakin banyak membaca semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh sehingga akhirnya akan semakin banyak bahan yang diperoleh untuk menulis.
3. Memotivasi diri, menghilangkan sifat malas, serta menanamkan sifat percaya diri.
Segala tindakan yang dilakukan oleh manusia berawal dari niat. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang tidak lepas dari niat dan motivasi. Demikian halnya dengan kegiatan menulis. Seorang yang ingin menulis harus meluangkan waktu untuk duduk membaca, menggali informasi untuk menemukan ide. Proses tersebut dijalani karena adanya motivasi. Kurangnya motivasi dalam diri seorang pelajar akan memunculkan perasaan malas yang selanjutanya membangun rasa kurang percaya diri untuk menciptakan sebuah tulisan.
4. Membuat wadah pelatihan penulisan suatu karya
Hambatan atau kendala lain yang dihadapi pelajar dalam menghasilkan tulisan ilmiah adalah terbatasnya wadah bagi pelajar untuk berlatih. Hal tersebut terlihat pada kurangnya kegiatan pelatihan, workshop, maupun lomba yang diadakan di lingkungan lembaga pendidikan. Oleh karena itu, lemabaga pendidikan diharapkan membuat tempat pelatihan penulisan karya, sehingga budaya menulis dapat dilestarikan.
Sudah jelas manfaat menguasai keterampilan menulis. Dekati menulis, jangan pernah musuhi menulis, karena dibalik hal membosankannya menyimpan segudang manfaat untuk perkembangan kualitas diri dan kualitas Negara ini yang terlanjur terlampau jauh oleh Negara lain. Jadi, apa yang kalian tunggu? Memulailah walaupun terlambat.***
0 komentar