Berani Merasa: Rasa yang Menuntut Jeda
Ada rasa yang tumbuh diam-diam, seperti hujan yang turun tanpa suara di malam paling sunyi. Ia tahu sejak awal bahwa hatinya tak pernah berdiri di posisi yang sejajar, tapi ia tetap memilih tinggal, bukan karena tak tahu diri, melainkan karena perasaannya terlanjur terkunci pada satu arah tanpa pintu keluar. Ia menerima peran yang diberikan, meski di dalam dirinya masih tersisa celah kecil yang enggan mati. Bukan karena keras kepala, hanya karena tidak semua rasa sanggup berhenti ketika diminta.
Hari-hari berjalan dalam sunyi yang kian terasa seperti beban. Ia berusaha belajar terlihat baik-baik saja ketika mendengar cerita tentang kedekatan baru yang sedang dicoba. Ia mengangguk, seolah tak ada apa-apa, meski di dalam dada ada sesuatu yang menekan, seperti ingin keluar tapi tak diberi ruang. Ada luka yang tidak berisik, tapi cukup untuk membuat senyum terasa lebih tipis dari biasanya.
Ia mendengarkan semua dengan kepala tegak, walau hatinya perlahan menyiapkan jarak. Bukan karena ingin menghilang, bukan pula karena ingin menyakiti, tapi karena ia lelah menempatkan diri di ruang yang tak pernah benar-benar disediakan untuknya. Maka ia memilih berkata jujur, meski kata-kata itu terasa seperti pisau yang diarahkan ke dirinya sendiri.
Tentang keputusannya untuk pergi, membatasi, bahkan kemungkinan saling menghilang, itu bukan sekadar drama. Itu adalah cara terakhir untuk menjaga sisa dirinya yang belum hancur sepenuhnya. Ada bagian dalam dirinya yang ingin bertahan, tapi ada bagian lain yang lebih ingin selamat. Dan di antara dua itu, ia memilih rasa sakit yang lebih singkat, meski lebih tajam.
Namun jauh di balik semua itu, masih ada titik kecil yang belum sepenuhnya padam. Sebuah sisa harap yang ia simpan diam-diam, meski tahu tak seharusnya digenggam terlalu lama. Tapi perlahan ia belajar, bahwa tidak semua rasa harus dimiliki, dan tidak semua kedekatan harus diperjuangkan sampai habis. Ada yang cukup dikenang, lalu dilepaskan, agar ia bisa kembali menemukan dirinya sendiri.
Ia akhirnya pergi, bersama sepi yang perlahan sadar bahwa dirinya memang tak pernah benar-benar diperlukan, membawa serta rasa yang menuntut jeda agar hatinya tak runtuh lebih lama.

0 komentar